Kolom Agribisnis – Menjadi Kaya Dari Iles Iles Part 2

Tumbuhan ini mampu beradaptasi di dataran rendah sampai menengah, dengan agroklimat panas, dan justru toleran dengan tanah tandus. Maka iles-iles banyak dikembangkan di bawah tegakan hutan jati. Kebetulan, iles-iles juga bisa hidup baik di bawah tegakan pohon besar, asalkan masih ada sisa sinar matahari yang menembus tajuk tanaman. Kebetulan, tajuk hutan jati tidak serapat tajuk tanaman karet. Selain di bawah tegakan jati, sebenarnya iles-iles juga bisa dikembangkan di sela-sela tanaman sengon (jeungjing, albisia), sawit, kopi, dan kakao.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Meskipun sebenarnya, iles-iles juga bisa dibudidayakan secara monokultur seperti padi, jagung, singkong. Di RRT, umbi konjak ditanam secara monokultur. Selama ini, para petani iles-iles langsung menjual umbi segar mereka. Atau, mereka hanya mengolahnya menjadi keripik iles-iles. Ini bukan keripik sebagai cemilan, melainkan keripik untuk ditepungkan, dan diekstrak glukomanannya. Karena langsung menjual umbi iles-iles segar, petani memang bisa hidup cukup, tapi sulit menjadi kaya. Kalau mau kaya, umbi segar itu harus diolah menjadi keripik, ditepungkan, kemudian diekstrak menjadi tepung glukomanan.

Ketika sempat berkunjung ke Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Menteri BUMN Dahlan Iskan , terpesona dengan umbi iles-iles Perum Perhutani. Ia menjanjikan akan mendirikan pabrik glukomanan di kabupaten tersebut. Sejahterakan Petani Pola pabrik besar yang dikelola BUMN atau malah swasta, tidak pernah akan membuat petani menjadi kaya. Kalau ingin menyejahterakan petani, mereka perlu didorong untuk membentuk koperasi. Koperasi inilah yang harus mengorganisir para anggotanya, agar mampu mengolah ilesiles menjadi tepung konyaku. Hanya dengan cara ini, petani akan jadi sejahtera. Pengolahan umbi iles-iles segar menjadi glukomanan bahkan konyaku blog, relatif sederhana.

Berbagai penelitian dan percobaan sudah dilakukan. Kalau kita klik di Google Pengolahan Umbi (Tepung) Iles-iles” akan keluar banyak sekali judul informasi dan gambar. Lembaga penelitian di Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Perguruan Tinggi, sudah banyak sekali menyediakan ilmu, bahkan “manual” (petunjuk praktis) untuk mengolah umbi iles-iles menjadi tepung glukomanan. Itu semua baru teori, tetapi dengan praktek beberapa kali, keterampilan itu akan diperoleh petani. Dinas Perindustrian di Kabupaten atau Provinsi di kawasan penghasil iles-iles, misalnya di Kabupaten Grogogan, Blora, Kediri, Blitar; sudah lama menggeluti bisnis ini.

Yang diperlukan kemudian hanyalah pengorganisasian secara nasional, agar produk itu terpasarkan dengan baik. Iles-iles juga tidak bisa dikonsumsi langsung. Akibatnya, tak akan pernah ada orang yang berniat mencurinya. Sebab umbi ini tak akan laku dijual di mana pun; kecuali di pengolah umbi iles-iles menjadi keripik. Maka, selain bisa dipromosikan sebagai komoditas yang bisa bikin petani jadi kaya, iles-iles juga bisa dipopulerkan sebagai komoditas “anti maling”.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *