Patjuk Bubur Kacang Merah dari Menu Jasa Catering Sehat Jakarta

Stoica.id – Patjuk Bubur Kacang Merah dari Menu Jasa Catering Sehat Jakarta. Patjuk adalah bubur kacang merah Korea. Bubur ini dibuat dari kacang merah yang dihaluskan dan direbus bersama beras ketan. Masyarakat sana biasa menyantapnya saat musim dingin. Tetapi khusus di perayaan Dongjinal yang jatuh 22 Desember, mereka menyantap patjuk donji yaitu sup kacang merah yang dilengkapi telur burung. Telur burungnya bukan telur burung betulan, tetapi adonan beras ketan yang dibuat bola-bola hingga menyerupai telur burung.

Jumlahnya sama seperti usia mereka. Dongjinal dirayakan saat titik balik matahari (siang hari menjadi sangat pendek, tetapi malam hari jadi sangat panjang). Saat ini dipercaya kekuatan yin akan lebih besar daripada kekuatan yang. Sehingga banyak keburukan bisa terjadi. Dalam tradisi Korea kuno, patjuk diyakini memiliki kekuatan misterius untuk mengusir roh-roh jahat pergi karena mereka percaya warna merah pada kacang merah dianggap sebagai warna simbolis energi positif yang dapat mengalahkan energi negatif. Karena merah menggambarkan darah, api, matahari, dan kekuatan.

Tak heran kalau memasak dan makan patjuk dianggap bisa mencegah nasib buruk, penyakit epidemik, atau kekuatan buruk yang berasal dari roh-roh jahat. Sebelum menyantap sup ini, orang Korea biasa meletakan sup di berbagai sudut rumah. Misalnya, di dapur, gudang, gerbang rumah, dan halaman. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama. Menurut cerita, seorang pria bernama gong gong yang memiliki seorang putra yang buruk tabiatnya.

Setelah meninggal, ia menjadi dewa wabah penyakit. Karena tabiatnya yang kejam, banyak orang terbunuh oleh epidemi. Untuk mencegahnya, masyarakat lalu memasak dan menyantap sup kacang yang berwarna merah ini mengingat anak gong gong membenci sup kacang merah selagi hidupnya. Ternyata cara ini berhasil menghalau serangan epidemi. Sejak itu kebiasaan ini dilanjutkan sampai sekarang. Makan patjuk juga sebetulnya merupakan ritual yang dilakukan agar hasil panen berlimpah. Terutama orang Korea kuno yang hidupnya sangat bergantung pada hasil panen.

Saat ini kebiasaan makan patjuk di musim dingin tetap dilanjutkan, entah karena tradisi atau sebagai penghalau rasa dingin. Selain itu bubur kacang merah ini bagus kandungan nutrisinya hingga diharapkan bisa membangun stamina mengerjakan panen di musim semi. Sampai saat ini orang masih menyantap bubur ini terutama di perayaan dongjinal. Bila tak dibuat sendiri, restoran secara khusus menyediakan menu ini saat itu. Menghidangkan patjuk juga disebut-sebut merupakan cara melestarikan makanan. Kalau biasanya tergantung pada nasi, kini pada biji-bijian. Penyajiannya bahkan tak memerlukan tambahan lauk.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *