Kodam Jaya Salah Alamat Sekali

Menurut pria 59 tahun ini, Kodam Jaya salah alamat. Pemilik asal tanah itu bernama Kisong bin Waled dengan girik 482, persil 51, blok DII. ”Beda persil dan blok, otomatis lokasinya beda,” ujar Fubijanto, yang berprofesi sebagai dokter gigi. Fubijanto hakulyakin mengantongi bukti kuat atas kepemilikan lahan di pinggir jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) itu. Keluarga Wanfung menguasai tanah tersebut sejak 25 tahun silam.

Asal-usulnya, orang tua Wanfung, Liman Bratadjaja, membeli dua bidang tanah dengan girik atas nama Kisong. Transaksi itu tercatat dalam akta jual-beli nomor 284/JB/II/1990 tanggal 3 Februari 1990. Akta atas nama anak Liman, Santoso Bratadjaja, itu dibuat pejabat pembuat akta tanah Muhammad Nur Abdul Latif, Camat Pasar Rebo (kini Cipayung), untuk lahan seluas 4.000 meter persegi. Bukti lain berupa akta jual-beli nomor 285/JB/II/1990 tanggal 3 Februari 1990.

Akta atas nama Liman Bratadjaja itu untuk lahan seluas 4.350 meter persegi. Selama ini keluarga Wanfung membayar pajak atas dasar surat pemberitahuan pajak terutang yang rutin mereka terima. Kedua bidang lahan terletak di Jalan Hankam, Kelurahan Bambu Apus. Liman telah mewariskan satu bidang tanah itu kepada han itu, tentara memasang papan bertulisan ”Tanah Ini Milik TNI AD”.

Lahan yang dipagari berada di sisi barat lahan Wanfung, berbatasan dengan tanah milik tentara yang dijadikan cagar budaya. Keluarga Liman, pada 2 April 1997, menyurati Kepala Zeni Daerah Militer Jakarta Raya untuk menolak pemagaran. Mereka melampirkan bukti kepemilikan tanah. Empat bulan kemudian, pihak Zeni membalas surat Liman. Zeni menyatakan tanah 2.000 meter persegi memang milik keluarga Wanfung.

Surat balasan Zeni juga menyebutkan nama Kisong tak ada dalam daftar pemilik asal tanah yang diambil alih TNI AD pada 1958. Keterangan Kepala Zeni itu dikuatkan oleh surat Kepala Hukum Daerah Militer Jakarta Raya.

Pada 1 September 1997, Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum juga meminta konfirmasi TNI AD ihwal status tanah girik c 2281 dan c 2282. Bina Marga meminta penegasan agar tak terjadi tumpang-tindih pembayaran ganti rugi lahan untuk jalan tol JORR. Setengah bulan kemudian, Inspektorat Jenderal Mabes TNI AD membalas surat dan menjelaskan kedua bidang tanah itu atas nama Soetjiati dan Fubijanto.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *